Sabtu, 16 Juni 2012

VBC Kambing Kacang di Kel. RUKUWA


POTENSI USAHA VBC (VILLAGE BREEDING CENTER)
DI KELURAHAN RUKUWA KABUPATEN WAKATOBI




I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sejalan dengan berkembangnya jumlah penduduk  serta di dorong pula dengan makin berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sangat berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat untuk meningkatkan derajat/tingkat sosial ekonomi dan keluarganya. Untuk membentuk derajat/tingkat ekonomi tersebut, dipenuhi oleh daya adopsi dan inovasi masyarakat tentang sesuatu pembaharuan pada setiap sector/bidang ekonomi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarganya.
Sub sektor peternakan dan pertanian merupakan sub sektor pembangunan ekonomi pedesaan yang tersedia bagi masyarakat untuk digali dan dikembangkan melalui usaha agribisnis sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.  Ternak kambing termasuk komoditas unggulan yang memiliki prospek cukup baik dimasa yang akan datang serta mempunyai peluang pasar cukup besar mengingat kebutuhan daging, baik untuk memenuhi kebutuhan lokal, regional maupun nasional masih sangat kurang apabila dilihat dari kebutuhan per kapita.
Sebagai langkah/upaya untuk mewujudakan kabupaten Wakatobi sebagai Kabupaten yang bergerak di bidang pariwisata yang di mulai sejak terbentuknya kabupaten ini, maka akan lebih menarik jika pemerintah menggerakkan bidang Peternakan sebagai salah satu wisata dibidang agrowisata sekaligus mendatangkan pendapatan yang lebih bagi masyarakat dengan melaksanakan kegiatan yang bersifat kemitraan dengan kelompok tani yang ada di wilayah kelurahan Rukuwa, kec. Binongko Kabupaten  Wakatobi yaitu menggerakan  VBC ternak kambing.
Dewasa ini, khususnya kelompok tani yang berada di kelompok Tani di kelurahan Rukuwa Kabupaten Wakatobi, sangat antusias untuk bergerak dalam bidang peternakan yaitu pembibitan ternak kambing, mengingat kambing cukup mudah untuk dipelihara dan cepat menghasilkan keturunan sehingga peternak lebih  cepat dalam menghasilkan keuntungan.  Akan tetapi yang menjadi kendala untuk mengembangkan usaha tersebut adalah permodalan.

II.          ASPEK PELAKSANAAN KEGIATAN

A.       Letak Administratif

Kelurahan Rukuwa terletak di Pulau Binongko + 15 mil dari Ibu Kota kabupaten Wakatobi.  Kelurahan rukuwa berbatasan dengan kelurahan palahidu disebelah utara, desa kampo-kampo pada sebelah selatan, laut banda disebelah timur dan laut flores disebelah barat.   
B.        Keadaan Topografi
Kelurahan  rukuwa merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 3-800 meter diatas permukaan laut dengan luas wilayah 14,09 km.  Kelurahan ini memiliki topografi dataran yang bergelombang dan datar dengan suhu dan kelembaban masing-masing 23ยบC dan 80% serta curah hujan 3.350 mm/tahun.
C.       Sarana dan Prasarana yang Mendukung
Secara umum kelurahan rukuwa sebagai daerah yang akan dijadikan sebagai lokasi pembibitan kambing memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk usaha pembibitan kambing.  Sarana dan prasarana yang terdapat dikelurahan rukuwa antara lain; angkutan darat (motor, mobil pick up, dan truk), angkutan laut (Kapal), jalan raya, pelabuhan,  listrik dan telekomunikasi, lahan yang cukup dan sumber air bersih yang cukup dan memadai.

III.    POTENSI USAHA
A.       Sumber Daya Alam
Lahan produktif di Kelurahan Rukuwa sebagian besar diusahakan untuk pertanian, walaupun kondisi tanahnya kurang subur karena sebagian besar kondisi tanahnya berupa batu karang yang dilapisi tanah yang tipis.  Namun demikian,  saat ini banyak masyarakat yang tergabung dalam beberapa kelompok tani sudah mulai menanam beberapa jenis legume (gamal, lamtoro dan turi) yang bisa tahan terhadap kondisi tanah dan berproduksi optimal sebagai hijauan makanan ternak.  Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak kambing yang biasanya diperoleh dari hutan atau pekarangan masyarakat seperti ketapang laut atau beberapa jenis dedaunan yang disukai oleh kambing.
Selain sumber daya pakan yang tersedia, lahan yang bisa digunakan untuk areal peternakanpun cukup luas karena ada beberapa titik lahan yang bukan lahan produktif.  Selain itu, dikelurahan rukuwa juga terdapat sumber air bersih yang cukup sepanjang tahun untuk kebutuhan ternak dan membersihkan perlengkapan dan kadang serta untuk mengairi hijauan makanan ternak.
B.        Sumber Daya Manusia
Disamping modal, sarana produksi dan teknologi, petani sebagai sumber daya manusia merupakan factor utama dalam melakukan kegiatan peningkatan produksi. Faktor-faktor produksi tersebut merupakan suatu system artinya satu dan lainnya saling mendukung dan harus tersedia pada waktunya.
Masyarakat peternak kambing yang ada dikelurahan rukuwa pada umumnya tergabung dalam kelompok tani dan sudah beternak kambing cukup lama sehingga sedikit banyak mengetahui teknis pemeliharaan ternak kambing.  Selain itu, dikelurahan rukuwa cukup sering dilakukan pertemuan-pertemuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarkat.
C.       Potensi Ternak
Daging kambing merupakan sumber protein hewani yang cukup diminati oleh masyarakat kelurahan rukuwa khususnya dan propinsi Sulawesi Tenggara umummnya sehingga permintaan akan kambing meningkat dari tahun ke tahun.  Bahkan permintaan kambing di Sulawesi Tenggara tidak dapat dipenuhi oleh peternak lokal sehingga mendatangkan kambing dari luar Sulawesi Tenggara seperti Donggala (Sulawesi Tengah).  Permintaan akan kambing (daging atau ternak hidup) semakin meningkat pada hari-hari besar atau acara-acara tertentu. Populasi kambing di Sulawesi Tenggara saat ini 121.602 ekor dimana kabupaten wakatobi menyumbangkan populasi kambing sebanyak 3.655 ekor dan kelurahan rukuwa memberikan kontribusi jumlah kambing sebanyak 100 ekor dari total populasi ternak kambing di wakatobi.

IV.       ASPEK PRODUKSI
A.       Jenis dan Ketersediaan Kambing Bakalan
Jenis kambing yang akan dijadikan bibit untuk usaha VBC Kambing di Kelurahan Rukuwa adalah kambing kacang karena jeniis kambing ini berkembang cukup baik di kecamatan binongko kelurahan rukuwa.  Apalagi kambing kacang dikelurahan rukuwa masih tergolong cukup unggul karena memiliki postur tubuh yang relative besar.  Sementara itu, ketersediaan bakalan kambing kacang  di Kelurahan Rukuwa cukup untuk memenuhi kebutuhan VBC.


B.        Hama dan Penyakit
Kabupaten Wakatobi, termasuk  kelurahan Rukuwa merupakan daerah yang bebas penyakit berbahaya  dan yang bersifat zoonosis sehingga memungkinkan untuk dikembangkan VBC kambing.  Namun demikian penyakit scabies kerap kali menyerang ternak kambing di rukuwa namun hal ini masih bisa diatasi dengan pengggunaan obat tradisional.


Kamis, 14 Juni 2012

PROBLEMATIKA PERKEMBANGAN TERNAK KERBAU DI INDONESIA


TUGAS 1
MANAJEMEN PEMBIBITAN TERNAK
(PROBLEMATIKA PERKEMBANGAN TERNAK KERBAU DI INDONESIA)
DENI ARJUNA
NIM.  DIB4 09 062




PENDAHULUAN


Ternak kerbau merupakan salah satu jenis ternak ruminansia besar andalan untuk produksi daging dan ternak kerja.  Jenis ternak ini biasanya dipelihara oleh masyarakat yang tinggal diwilayah berawa atau berair.  Berdasarkan habitatnya, jenis  ternak kerbau dibagi menjadi dua jenis yakni kerbau rawa (swamp buffalo) dan kerbau sungai (river buffalo) (HAFID, 2007).
FAO (2010) menyatakan jumlah kerbau di seluruh dunia ada 158 juta ekor, 97% dari jumlah tersebut (sekitar 153 juta) berada di Asia, sisanya tersebar di Afrika Utara, Eropa Selatan, Amerika Selatan dan Australia. 
Di Indonesia, populasi kerbau saat ini sekitar 2,2 juta ekor (DITJENNAK, 2009).  Kerbau merupakan sumberdaya genetik ternak lokal yang kontribusinya dalam program swasembada daging mulai diakui pada tahun 2010.  Di masyarakat petani, kerbau seperti halnya ternak sapi mempunyai fungsi serupa yaitu sebagai penghasil daging, tenaga kerja, tabungan, penghasil susu, sarana ritual maupun status sosial masyarakat. 
Kerbau mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan ternak besar lainnya seperti kemampuan untuk hidup diwilayah yang tidak dapat dikembangkan untuk ternak lainnya seperti kawasan rawa (Kalimantan, Sumatera dan Papua) sampai pada wilayah yang sangat kering dan keras seperti di pulau Wetar yang dikenal dengan kerbau Wetar.  Keunngulan ternak kerbau dibandingkan dengan sapi potong antara lain daya adaptasi, efisiensi penggunaan pakan serat kasar yang tinggi, tahan terhadap parasit eksternal pada kondisi pemeliharaan ekstensif panas (LEMCKE, 2010).
Oleh sebab itu, sebenarnya dalam pengembangan kerbau, masih banyak peluang yang dapat dilakukan dengan memahami permasalahah-permasalahan utama pengurasan populasi kerbau yang akan menjadi dasar dalam perencanaan dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung  percepatan pelestarian dan peningkatan populasi kerbau.  Oleh karena itu, dalam telaah makalah ini bertujuan untuk mencermati perkembangan populasi ternak kerbau dan memahami problematika permasalahannya.



 


II. PEMBAHASAN


A.       Populasi Kerbau

Populasi kerbau di Indonesia pada tahun 2009 berjumlah sekitar 2.046.000 ekor yang didominasi oleh kerbau lumpur dan hanya sekitar 2 ribu ekor kerbau sungai. Kerbau diternakkan oleh masyarakat peternak secara tradisional yang mempraktekkan zero cost untuk pakan di dalam pemeliharaannya.
Dinamika populasi ternak kerbau dapat dilihat pada Tabel 1.  Dari Tabel 1 terlihat bahwa dalam tiga tahun terakhir populasi kerbau di Indonesia mulai memperlihatkan trend peningkatan antara 1 – 2% per tahun. 


Tabel 1.  Populasi ternak kerbau di Indonesia
No.
Tahun
Jumlah (ekor)
Pertumbuhan/tahun
1
1925
3.227.000
-
2
1999
2.859.000
-1,19
3
2002
2.403.000
-
4
2005
2.428.000
1,03
5
2006
2.478.000
2,01
6
2007
2.527.000
1,94
7
2009
2.046.000
6,01

B.     Problematika/Permasalahan Teknis Pengembangan Kerbau

Populasi kerbau mencapai puncaknya pada tahun 1925, selanjutnya terus menurun sampai saat ini.  Sebab-sebab penurunan populasi cukup kompleks antara lain terkait dengan daya reproduksi, basis ekologis lahan, penyakit maupun kelembagaan pengelolaannya serta dukungan kebijakan pengembangannya.  Secara umum, problematika pengembangan kerbau di Indonesia terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal.
1.      Faktor internal
Faktor internal ditentukan oleh sifat atau karakteristik dari suatu jenis ternak. Pada kerbau sifat internal yang berpengaruh terhadap kendala peningkatan populasi adalah:
·         Masak lambat
Kerbau termasuk ternak yang lambat di dalam mencapai dewasa kelamin (Subiyanto, 2010). Pada umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 3 tahun
·         Lama bunting
Kerbau akan mengandung anaknya selama 10,5 bulan, sedangkan sapi hanya 9 bulan.  Menurut Keman (2006) lama bunting pada kerbau bervariasi dari 300 – 334 hari (rata-rata 310 hari) atau secara kasar 10 bulan 10 hari.
·         Berahi tenang
Tanda-tanda berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas (Subiyanto, 2010).  Sifat ini menyulitkan pada pengamatan berahi untuk program inseminasi buatan. Meskipun fenomena ini bisa diatasi dengan menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan system pemeliharaan yang terkurung memungkinkan perkawinan tidak terjadi.
·         Waktu berahi
Umumnya berahi pada kerbau terjadi pada saat menjelang malam sampai agak malam dan menjelang pagi atau saat subuh atau lebih pagi (Toelihere, 2001). Pada saat seperti ini umumnya kerbau-kerbau betina di Indonesia sedang berada dalam kandang yang tertutup, yang tidak memungkinkan terjadinya perkawinan.
·         Jarak beranak yang panjang
Jarak beranak yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya.  Pada kerbau kerja jarak beranak bervariasi dari 350 sampai 800 hari dengan rata-rata 553 hari (Keman, 2006).   Menurut Ladhanie (2005) jarak beranak pada kerbau rawa antara 18 sampai 24 bulan.
·         Beranak pertama
Panjang sifat-sifat produksi lain akan berpengaruh langsung terhadap beranak
pertama pada kerbau. Hasil survei di Indonesia terutama di NAD, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan, umur pertama kali kerbau beranak masing-masing 45,0; 49,6; 47,7; 49,1; 45,6 dan 49,2 bulan dengan rata-rata 47,7 bulan (Anonimus, 1985 yang dikutip Keman, 2006).
·         Derajat inbreeding yang tinggi
Dari segi genetik terlihat bahwa terjadinya perkawinan dalam keluarga yang sudah berlangsung lama mengakibatkan keturunan kerbau dengan kandungan derajat inbreeding yang tinggi.  Indikasinya banyak terlihat pada keturunan albino, tanduk yang jatuh ke bawah dan kemunduran dalam reproduksi. Terlihat juga mundurnya sifat-sifat produksi yang terkait dengan reproduksi seperti produksi susu, sehingga dapat menurunkan sifat keindukannya yang berdampak pada cow index yang rendah.


2.      Faktor eksternal
Diantara faktor eksternal, ada yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan ternak kerbau dan ada juga yang tidak.  Faktor-faktor eksternal yang langsung berpengaruh terhadap lambannya perkembangan ternak kerbau di Indonesia antara lain :
·         Perhatian dalam pengembangan belum memadai.
Dibandingkan dengan peran kerbau dalam masyarakat yang sudah cukup jelas, perhatian untuk pengembangannya masih sangat kurang. Hal ini terutama terlihat dari terbatasnya penyediaan anggaran untuk pengembangan ternak kerbau, baik dalam anggaran pusat maupun daerah.

·         Pejantan unggul belum tersedia
Belum adanya seleksi untuk mendapatkan pejantan unggul mengakibatkan kegiatan IB pada ternak kerbau masih sangat terbatas apalagi untuk embrio transfer,
padahal kedua teknologi tersebut sudah dimiliki dan dikuasai dengan baik di Indonesia.
·         Pedoman teknis budidaya belum ada
Teknik budidaya masih secara tradisional yang tentunya akan kurang menunjang program pengembangan terutama untuk mengoptimalkan produktivitas kerbau yang ada di Indonesia. Pedoman tersebut dibutuhkan agar nilai-nilai komersial
pada kerbau dapat terangkat dengan baik sebagaimana pada ternak sapi.
·         Penetapan kawasan pengembangan kerbau
Pewilayahan kawasan pengembangan ditujukan untuk menjamin penggunaan lahan, baik untuk pangonan maupun untuk perkandangan dan pemukiman. Dengan demikian alih fungsi lahan peternakan/ pertanian menjadi kawasan pemukiman dan industri dapat dikurangi. Bagaimanapun juga dalam pengembangan populasi dan peningkatan produktivitas pertanian (ternak/tanaman pangan/perkebunan) tetap membutuhkan lahan, jika lahan tidak tersedia maka pengembangan tersebut tentunya akan ada batasannya. Kalau alih fungsi lahan pertanian/perkebunan/peternakan menjadi penggunaan yang lain dan tidak diatur dengan baik maka pencapaian produksi yang ditargetkan tidak akan tercapai.
·         Pemotongan ternak jantan dan betina kurang terkontrol
Keseimbangan jumlah ternak jantan dan betina dewasa di lapangan dalam sistem kawin alam harus mendapat perhatian yang serius.  Pengalaman dalam kunjungan ke lokasi sumber bibit kerbau di tiga propinsi di Sumatera menunjukkan bahwa (a) jumlah ternak jantan kurang memadai untuk mencapai calving rate yang optimal, (b) dalam struktur populasi jumlah sapi dara bunting cukup banyak tetapi jumlah betina dewasa yang telah beranak > 4 kali hampir tidak ada, padahal kerbau dapat melahirkan dengan mudah sampai 8 – 10 kali. Hal ini menunjukkan bahwa pemotongan betina produktif masih terjadi dengan umur antara 5 – 8 tahun.
·         Belum tersedia bibit/bakalan yang terjamin kualitas dan kuantitas
Contohnya adalah kesulitan dalam mendapatkan bakalan dengan persyaratan
tertentu dalam jumlah yang cukup untuk penggemukan komersial.
·         Kurang rangsangan bagi peternak untuk mengembangkannya
Kurangnya perhatian dan sosialisasi tentang kemampuan ternak kerbau yang
mempunyai potensi produksi yang tidak kalah dengan ternak sapi mengakibatkan petenak kurang berminat dalam mengembangkan ternak kerbau.  Disamping itu kemampuan adaptasi yang luar biasa pada daerah basah/becek/rawa seharusnya peternak antusias untuk mengembangkan ternak tersebut sebagaimana ternak sapi.
·         Pakan
Kontribusi pakan sangat kuat pengaruhnya terhadap performan reproduksi. Makanan berperan penting dalam perkembangan umum dari tubuh dan reproduktip.
Peternak kerbau di negara kita pada dasarnya merupakan peternak tradisional dan merupakan kegiatan yang turun menurun sehingga pemberian pakan umumnya di dapat pada saat digembalakan. Rumput yang tumbuh di lapangan, di pematang sawah atau pinggir-pinggir jalan adalah pakan yang tersedia pada saat digembalakan. Pakan yang diberikan di kandang umumnya jerami kering yang kadang-kadang disiram larutan garam dapur. Pada musim kemarau ketersediaan rumput alam akan sangat menurun jumlahnya dan secara langsung akan berpengaruh terhadap asupan pakan pada ternak. Pakan dengan kualitas dan kuantitas seperti ini akan berpengaruh tidak baik terhadap performa reproduksi. Diperparah lagi oleh tugas yang harus dilakukan pada saat musim mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan kerbau adalah mampu memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk mendapatkan performan reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas.

C.    Usaha-Usaha Mempercepat Peningkatan Populasi dan Kualitas Kerbau

Banyak faktor yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan populasi dan kualitas kerbau.
1.      Komitmen yang berkelanjutan
Penurunan populasi kerbau di daerah-daerah tertentu sudah lama terjadi, namun sampai sejauh ini dorongan pemerintah, terutama pemerintah daerah belum nyata mendorong perkembangan populasi di daerahnya masing-masing. Tidak sedikit
peternak kerbau berlokasi jauh dari pusat pemerintahan sehingga banyak yang tidak
tersentuh oleh laju pembangunan. Fasilitas untuk peningkatan populasi baik software
maupun hardware belum sampai ketangan peternak kerbau. Peternak kerbau seolah
berjalan sendiri tanpa tahu kemana tujuannya.
2.      Pembentukan kelompok ternak
Dalam kelompok para peternak bisa merencanakan usaha yang akan dilakukan sehubungan dengan peningkatan populasi, termasuk terbentuknya kandang kelompok. Kandang kelompok bila dikelola dengan baik dengan kesadaran yang tinggi dapat memecahkan masalah ketiadaan jantan dan keterlambatan perkawinan.
3.      Melakukan seleksi
Baik pada kerbau betina maupun pada kerbau jantan, terutama pada kerbau jantan. Mengingat satu ekor jantan dalam 1 tahun mampu mengawini 50 ekor betina dan bila semua berhasil bunting maka akan lahir anak kerbau yang genetikanya baik. Pada saat ini justru kerbau betina atau jantan yang tampilannya lebih besar adalah yang paling cepat masuk rumah potong. Peran pemerintah disini melakukan penjaringan agar fenomena yang sudah lama terjadi ini bisa dihentikan minimal dikurangi.




D.    Stimulasi Kewirausahaan Perbibitan Kerbau Berbasis Agribisnis

Untuk menstimulasi usaha perbibitan kerbau berbasis agribisnis maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·         Tentukan Arah pengembangan ternak kerbau. Untuk mendapatkan hasil seleksi yang optimal maka sifat produksi yang ingin dicapai harus jelas. Untuk kerbau sungai maka hanya dua opsi yaitu untuk meningkatkan produksi daging dan susu.  Untuk kerbau lumpur (swamp buffalo), hampir 100% kerbau di Indonesia, maka seleksi utama ditujukan untuk kecepatan pertumbuhan dan jumlah daging yang dihasilkan pada ternak jantan. Pada ternak betina diseleksi berdasarkan ukuran tubuh dewasa dan sifat keindukan yaitu indeks induk dan produksi susu induk. Untuk kerbau sungai (river buffalo), yang hanya ada di Sumatera Utara, ditujukan untuk produksi susu. Ternak jantan kerbau sungai juga potensial untuk produksi daging dengan kemampuan hanya sedikit di bawah kerbau lumpur. Jika keduanya diseleksi secara murni tanpa persilangan maka plasma nutfah Indonesia akan tetap terpelihara dengan baik.
·         Lakukan identifikasi keunggulan dari turunan calon pejantan/bibit yg diinginkan pada sifat-sifat di atas, kemudian dilakukan uji performans.
·         Seleksi berdasarkan performans tubuh:  tidak cacat, berat lahir, berat sapih, berat setahun, berat dan umur kawin pertama, libido, kualitas sperma (pada jantan), sifat-sifat reproduksi pada betina, indeks induk dan kesehatan,
·         Penerapan teknik pemberian pakan agar kecukupan pakan yang dikonsumsi dapat dipenuhi berdasarkan fase fisiologis (pakan pedet, rearing, siap kawin, reestrus postpartum dan penggemukan).
·         Penerapan IB pada pemeliharaan intensif terutama di UPT/UPTD atau stasiun percobaan (untuk perbaikan mutu genetik). Penerapan perbanyakan bibit dilakukan baik melalui perkawinan alam dan IB maupun dengan embrio transfer untuk mempercepat kemajuan dalam perbaikan genetik dan produktivitas.
·         Revitalisasi dan optimalisasi UPT (Siborong-borong)/UPTD agar dapat menghasilkan ternak-ternak unggul secara berkala sesuai kebutuhan. Minimal kegiatan perbibitan kerbau harus mampu menghasilkan bibit kerbau unggul (pejantan).
·         Pengembangan VBC (Village Breeding Center) pada daerah-daerah potensial sumber bibit ternak kerbau.
·         Mencegah inbreeding di lapangan dengan melakukan pergiliran pejantan dan introduksi jantan unggul.
·          Terapkan perbandingan jantan/betina yg ideal dalam sistem kawin alam agar perkawinan alam dapat memberikan hasil yang optimal.
·         Mensinkronkan program penyebaran ternak bibit kerbau untuk pengembangannya seperti program aksi PMUK ternak kerbau yang dimulai sejak tahun 2006 di beberapa daerah. Perlu juga disinkronkan dengan program daerah untuk mengembangkan calon-calon VBC di daerah-daerah tersebut.
·          Melakukan crossing (persilangan) antara kerbau lumpur dan kerbau sungai. Untuk itu diperlukan pertimbangan yang lebih dalam dan pemahaman yang detail tentang kapasitas dari kedua kerbau tersebut sebelum dilakukan crossing. Hal tersebut sangat penting karena dengan sistem pengamanan minimal yang ada di Indonesia, maka sekali crossing dilakukan jika terjadi dampak negative sebagai akibat dari persilangan tersebut, maka akan sulit mengembalikan keberadaan breed ternak asli (yang ternyata kemudian lebih baik). Hal seperti ini pernah dialami Indonesia dengan persilangan pada sapi. yaitu persilangan dengan Ongole yang memusnahkan sapi Jawa dan sekarang persilangan dengan sapi Eropa (Simmental/Limousin) yang menyebabkan perkembangan sapi PO dikhawatirkan berjalan ke arah kemusnahan di daerah sumber bibit utama.
·         Mengembangkan kemitraan antara instansi pemerintah, baik dalam memanfaatkan kerbau-kerbau bibit, maupun kebutuhan teknologi yang dibutuhkan dalam perbibitan dan pengembangan ternak kerbau.
·         Menstimulir keterlibatan swasta/investors dalam peternakan kerbau terutama dalam penggemukan dan pengembangan daging rendah kolesterol dan daging organic yang sekarang trendnya semakin meningkat di dunia. Penjualan daging kerbau organik yang rendah kolesterol cukup marak pada perdagangan internasional yang dapat ditelusuri melalui internet.