TUGAS
1
MANAJEMEN PEMBIBITAN TERNAK
(PROBLEMATIKA PERKEMBANGAN TERNAK KERBAU DI INDONESIA)
DENI ARJUNA
NIM. DIB4 09 062
PENDAHULUAN
Ternak
kerbau merupakan salah satu jenis ternak ruminansia besar andalan untuk
produksi daging dan ternak kerja. Jenis
ternak ini biasanya dipelihara oleh masyarakat yang tinggal diwilayah berawa
atau berair. Berdasarkan habitatnya,
jenis ternak kerbau dibagi menjadi dua
jenis yakni kerbau rawa (swamp buffalo)
dan kerbau sungai (river buffalo) (HAFID,
2007).
FAO
(2010) menyatakan jumlah kerbau di seluruh dunia ada 158 juta ekor, 97% dari
jumlah tersebut (sekitar 153 juta) berada di Asia, sisanya tersebar di Afrika
Utara, Eropa Selatan, Amerika Selatan dan Australia.
Di
Indonesia, populasi kerbau saat ini sekitar 2,2 juta ekor (DITJENNAK,
2009). Kerbau merupakan sumberdaya
genetik ternak lokal yang kontribusinya dalam program swasembada daging mulai
diakui pada tahun 2010. Di masyarakat
petani, kerbau seperti halnya ternak sapi mempunyai fungsi serupa yaitu sebagai
penghasil daging, tenaga kerja, tabungan, penghasil susu, sarana ritual maupun
status sosial masyarakat.
Kerbau
mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan ternak besar lainnya seperti
kemampuan untuk hidup diwilayah yang tidak dapat dikembangkan untuk ternak
lainnya seperti kawasan rawa (Kalimantan, Sumatera dan Papua) sampai pada
wilayah yang sangat kering dan keras seperti di pulau Wetar yang dikenal dengan
kerbau Wetar. Keunngulan ternak kerbau
dibandingkan dengan sapi potong antara lain daya adaptasi, efisiensi penggunaan
pakan serat kasar yang tinggi, tahan terhadap parasit eksternal pada kondisi
pemeliharaan ekstensif panas (LEMCKE, 2010).
Oleh
sebab itu, sebenarnya dalam pengembangan kerbau, masih banyak peluang yang
dapat dilakukan dengan memahami permasalahah-permasalahan utama pengurasan
populasi kerbau yang akan menjadi dasar dalam perencanaan dengan
kegiatan-kegiatan yang mendukung
percepatan pelestarian dan peningkatan populasi kerbau. Oleh karena itu, dalam telaah makalah ini bertujuan
untuk mencermati perkembangan populasi ternak kerbau dan memahami problematika
permasalahannya.
II. PEMBAHASAN
A. Populasi
Kerbau
Populasi kerbau
di Indonesia pada tahun 2009 berjumlah sekitar 2.046.000 ekor yang didominasi
oleh kerbau lumpur dan hanya sekitar 2 ribu ekor kerbau sungai. Kerbau diternakkan
oleh masyarakat peternak secara tradisional yang mempraktekkan zero cost untuk
pakan di dalam pemeliharaannya.
Dinamika
populasi ternak kerbau dapat dilihat pada Tabel 1. Dari Tabel 1 terlihat bahwa dalam tiga tahun
terakhir populasi kerbau di Indonesia mulai memperlihatkan trend peningkatan antara
1 – 2% per tahun.
Tabel 1. Populasi ternak kerbau di
Indonesia
|
No.
|
Tahun
|
Jumlah (ekor)
|
Pertumbuhan/tahun
|
|
1
|
1925
|
3.227.000
|
-
|
|
2
|
1999
|
2.859.000
|
-1,19
|
|
3
|
2002
|
2.403.000
|
-
|
|
4
|
2005
|
2.428.000
|
1,03
|
|
5
|
2006
|
2.478.000
|
2,01
|
|
6
|
2007
|
2.527.000
|
1,94
|
|
7
|
2009
|
2.046.000
|
6,01
|
B. Problematika/Permasalahan Teknis Pengembangan Kerbau
Populasi kerbau mencapai puncaknya pada tahun 1925, selanjutnya terus
menurun sampai saat ini. Sebab-sebab
penurunan populasi cukup kompleks antara lain terkait dengan daya reproduksi,
basis ekologis lahan, penyakit maupun kelembagaan pengelolaannya serta dukungan
kebijakan pengembangannya. Secara umum,
problematika pengembangan kerbau di Indonesia terdiri dari faktor internal dan
faktor eksternal.
1.
Faktor internal
Faktor internal
ditentukan oleh sifat atau karakteristik dari suatu jenis ternak. Pada kerbau
sifat internal yang berpengaruh terhadap kendala peningkatan populasi adalah:
·
Masak lambat
Kerbau termasuk
ternak yang lambat di dalam mencapai dewasa kelamin (Subiyanto, 2010). Pada
umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau
mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 3 tahun
·
Lama bunting
Kerbau akan
mengandung anaknya selama 10,5 bulan, sedangkan sapi hanya 9 bulan. Menurut Keman (2006) lama bunting pada kerbau
bervariasi dari 300 – 334 hari (rata-rata 310 hari) atau secara kasar 10 bulan
10 hari.
·
Berahi tenang
Tanda-tanda
berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas (Subiyanto, 2010). Sifat ini menyulitkan pada pengamatan berahi
untuk program inseminasi buatan. Meskipun fenomena ini bisa diatasi dengan
menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan system pemeliharaan yang terkurung
memungkinkan perkawinan tidak terjadi.
·
Waktu berahi
Umumnya berahi
pada kerbau terjadi pada saat menjelang malam sampai agak malam dan menjelang
pagi atau saat subuh atau lebih pagi (Toelihere, 2001). Pada saat seperti ini umumnya
kerbau-kerbau betina di Indonesia sedang berada dalam kandang yang tertutup, yang
tidak memungkinkan terjadinya perkawinan.
·
Jarak beranak yang panjang
Jarak beranak
yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya. Pada kerbau kerja jarak beranak bervariasi
dari 350 sampai 800 hari dengan rata-rata 553 hari (Keman, 2006). Menurut Ladhanie (2005) jarak beranak pada
kerbau rawa antara 18 sampai 24 bulan.
·
Beranak pertama
Panjang
sifat-sifat produksi lain akan berpengaruh langsung terhadap beranak
pertama pada kerbau. Hasil survei di
Indonesia terutama di NAD, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan
Sulawesi Selatan, umur pertama kali kerbau beranak masing-masing 45,0; 49,6;
47,7; 49,1; 45,6 dan 49,2 bulan dengan rata-rata 47,7 bulan (Anonimus, 1985 yang
dikutip Keman, 2006).
·
Derajat inbreeding yang tinggi
Dari segi genetik
terlihat bahwa terjadinya perkawinan dalam keluarga yang sudah berlangsung lama
mengakibatkan keturunan kerbau dengan kandungan derajat inbreeding yang
tinggi. Indikasinya banyak terlihat pada
keturunan albino, tanduk yang jatuh ke bawah dan kemunduran dalam reproduksi.
Terlihat juga mundurnya sifat-sifat produksi yang terkait dengan reproduksi
seperti produksi susu, sehingga dapat menurunkan sifat keindukannya yang
berdampak pada cow index yang rendah.
2.
Faktor eksternal
Diantara faktor
eksternal, ada yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan ternak kerbau
dan ada juga yang tidak. Faktor-faktor
eksternal yang langsung berpengaruh terhadap lambannya perkembangan ternak
kerbau di Indonesia antara lain :
·
Perhatian dalam pengembangan belum memadai.
Dibandingkan
dengan peran kerbau dalam masyarakat yang sudah cukup jelas, perhatian untuk pengembangannya
masih sangat kurang. Hal ini terutama terlihat dari terbatasnya penyediaan
anggaran untuk pengembangan ternak kerbau, baik dalam anggaran pusat maupun
daerah.
·
Pejantan unggul belum tersedia
Belum adanya
seleksi untuk mendapatkan pejantan unggul mengakibatkan kegiatan IB pada ternak
kerbau masih sangat terbatas apalagi untuk embrio transfer,
padahal kedua teknologi tersebut sudah dimiliki
dan dikuasai dengan baik di Indonesia.
·
Pedoman teknis budidaya belum ada
Teknik budidaya
masih secara tradisional yang tentunya akan kurang menunjang program
pengembangan terutama untuk mengoptimalkan produktivitas kerbau yang ada di
Indonesia. Pedoman tersebut dibutuhkan agar nilai-nilai komersial
pada kerbau dapat terangkat dengan baik sebagaimana
pada ternak sapi.
·
Penetapan kawasan pengembangan kerbau
Pewilayahan
kawasan pengembangan ditujukan untuk menjamin penggunaan lahan, baik untuk
pangonan maupun untuk perkandangan dan pemukiman. Dengan demikian alih fungsi lahan
peternakan/ pertanian menjadi kawasan pemukiman dan industri dapat dikurangi.
Bagaimanapun juga dalam pengembangan populasi dan peningkatan produktivitas
pertanian (ternak/tanaman pangan/perkebunan) tetap membutuhkan lahan, jika
lahan tidak tersedia maka pengembangan tersebut tentunya akan ada batasannya.
Kalau alih fungsi lahan pertanian/perkebunan/peternakan menjadi penggunaan yang
lain dan tidak diatur dengan baik maka pencapaian produksi yang ditargetkan
tidak akan tercapai.
·
Pemotongan ternak jantan dan betina kurang
terkontrol
Keseimbangan
jumlah ternak jantan dan betina dewasa di lapangan dalam sistem kawin alam
harus mendapat perhatian yang serius. Pengalaman
dalam kunjungan ke lokasi sumber bibit kerbau di tiga propinsi di Sumatera
menunjukkan bahwa (a) jumlah ternak jantan kurang memadai untuk mencapai calving
rate yang optimal, (b) dalam struktur populasi jumlah sapi dara bunting
cukup banyak tetapi jumlah betina dewasa yang telah beranak > 4 kali hampir
tidak ada, padahal kerbau dapat melahirkan dengan mudah sampai 8 – 10 kali. Hal
ini menunjukkan bahwa pemotongan betina produktif masih terjadi dengan umur
antara 5 – 8 tahun.
·
Belum tersedia bibit/bakalan yang terjamin
kualitas dan kuantitas
Contohnya
adalah kesulitan dalam mendapatkan bakalan dengan persyaratan
tertentu dalam jumlah yang cukup untuk penggemukan
komersial.
·
Kurang rangsangan bagi peternak untuk mengembangkannya
Kurangnya perhatian
dan sosialisasi tentang kemampuan ternak kerbau yang
mempunyai potensi produksi yang tidak kalah dengan
ternak sapi mengakibatkan petenak kurang berminat dalam mengembangkan ternak
kerbau. Disamping itu kemampuan adaptasi
yang luar biasa pada daerah basah/becek/rawa seharusnya peternak antusias untuk
mengembangkan ternak tersebut sebagaimana ternak sapi.
·
Pakan
Kontribusi
pakan sangat kuat pengaruhnya terhadap performan reproduksi. Makanan berperan
penting dalam perkembangan umum dari tubuh dan reproduktip.
Peternak kerbau di negara kita pada dasarnya
merupakan peternak tradisional dan merupakan kegiatan yang turun menurun sehingga
pemberian pakan umumnya di dapat pada saat digembalakan. Rumput yang tumbuh di
lapangan, di pematang sawah atau pinggir-pinggir jalan adalah pakan yang
tersedia pada saat digembalakan. Pakan yang diberikan di kandang umumnya jerami
kering yang kadang-kadang disiram larutan garam dapur. Pada musim kemarau ketersediaan
rumput alam akan sangat menurun jumlahnya dan secara langsung akan berpengaruh
terhadap asupan pakan pada ternak. Pakan dengan kualitas dan kuantitas seperti
ini akan berpengaruh tidak baik terhadap performa reproduksi. Diperparah lagi oleh
tugas yang harus dilakukan pada saat musim mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan
kerbau adalah mampu memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk
mendapatkan performan reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik
kualitas maupun kuantitas.
C.
Usaha-Usaha Mempercepat Peningkatan Populasi dan Kualitas Kerbau
Banyak faktor
yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan populasi dan kualitas kerbau.
1. Komitmen yang berkelanjutan
Penurunan populasi kerbau di daerah-daerah tertentu sudah lama terjadi,
namun sampai sejauh ini dorongan pemerintah, terutama pemerintah daerah belum
nyata mendorong perkembangan populasi di daerahnya masing-masing. Tidak sedikit
peternak kerbau berlokasi jauh dari pusat pemerintahan
sehingga banyak yang tidak
tersentuh oleh laju pembangunan. Fasilitas untuk
peningkatan populasi baik software
maupun hardware belum sampai ketangan peternak
kerbau. Peternak kerbau seolah
berjalan sendiri tanpa tahu kemana tujuannya.
2. Pembentukan kelompok ternak
Dalam kelompok para
peternak bisa merencanakan usaha yang akan dilakukan sehubungan dengan peningkatan
populasi, termasuk terbentuknya kandang kelompok. Kandang kelompok bila dikelola
dengan baik dengan kesadaran yang tinggi dapat memecahkan masalah ketiadaan
jantan dan keterlambatan perkawinan.
3. Melakukan seleksi
Baik pada
kerbau betina maupun pada kerbau jantan, terutama pada kerbau jantan. Mengingat
satu ekor jantan dalam 1 tahun mampu mengawini 50 ekor betina dan bila semua berhasil
bunting maka akan lahir anak kerbau yang genetikanya baik. Pada saat ini justru
kerbau betina atau jantan yang tampilannya lebih besar adalah yang paling cepat
masuk rumah potong. Peran pemerintah disini melakukan penjaringan agar fenomena
yang sudah lama terjadi ini bisa dihentikan minimal dikurangi.
D.
Stimulasi Kewirausahaan Perbibitan Kerbau Berbasis Agribisnis
Untuk
menstimulasi usaha perbibitan kerbau berbasis agribisnis maka perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
·
Tentukan Arah pengembangan ternak kerbau. Untuk mendapatkan hasil
seleksi yang optimal maka sifat produksi yang ingin dicapai harus jelas. Untuk
kerbau sungai maka hanya dua opsi yaitu untuk meningkatkan produksi daging dan
susu. Untuk kerbau lumpur (swamp
buffalo), hampir 100% kerbau di Indonesia, maka seleksi utama ditujukan
untuk kecepatan pertumbuhan dan jumlah daging yang dihasilkan pada ternak
jantan. Pada ternak betina diseleksi berdasarkan ukuran tubuh dewasa dan sifat
keindukan yaitu indeks induk dan produksi susu induk. Untuk kerbau sungai (river
buffalo), yang hanya ada di Sumatera Utara, ditujukan untuk produksi susu.
Ternak jantan kerbau sungai juga potensial untuk produksi daging dengan
kemampuan hanya sedikit di bawah kerbau lumpur. Jika keduanya diseleksi secara
murni tanpa persilangan maka plasma nutfah Indonesia akan tetap terpelihara
dengan baik.
·
Lakukan identifikasi keunggulan dari turunan calon pejantan/bibit yg diinginkan
pada sifat-sifat di atas, kemudian dilakukan uji performans.
·
Seleksi berdasarkan performans tubuh:
tidak cacat, berat lahir, berat sapih, berat setahun, berat dan umur
kawin pertama, libido, kualitas sperma (pada jantan), sifat-sifat reproduksi
pada betina, indeks induk dan kesehatan,
·
Penerapan teknik pemberian pakan agar kecukupan pakan yang dikonsumsi
dapat dipenuhi berdasarkan fase fisiologis (pakan pedet, rearing, siap
kawin, reestrus postpartum dan penggemukan).
·
Penerapan IB pada pemeliharaan intensif terutama di UPT/UPTD atau
stasiun percobaan (untuk perbaikan mutu genetik). Penerapan perbanyakan bibit dilakukan
baik melalui perkawinan alam dan IB maupun dengan embrio transfer untuk
mempercepat kemajuan dalam perbaikan genetik dan produktivitas.
·
Revitalisasi dan optimalisasi UPT (Siborong-borong)/UPTD agar dapat menghasilkan
ternak-ternak unggul secara berkala sesuai kebutuhan. Minimal kegiatan
perbibitan kerbau harus mampu menghasilkan bibit kerbau unggul (pejantan).
·
Pengembangan VBC (Village Breeding Center) pada daerah-daerah
potensial sumber bibit ternak kerbau.
·
Mencegah inbreeding di lapangan dengan melakukan pergiliran
pejantan dan introduksi jantan unggul.
·
Terapkan perbandingan
jantan/betina yg ideal dalam sistem kawin alam agar perkawinan alam dapat
memberikan hasil yang optimal.
·
Mensinkronkan program penyebaran ternak bibit kerbau untuk pengembangannya
seperti program aksi PMUK ternak kerbau yang dimulai sejak tahun 2006 di
beberapa daerah. Perlu juga disinkronkan dengan program daerah untuk
mengembangkan calon-calon VBC di daerah-daerah tersebut.
·
Melakukan crossing (persilangan)
antara kerbau lumpur dan kerbau sungai. Untuk itu diperlukan pertimbangan yang
lebih dalam dan pemahaman yang detail tentang kapasitas dari kedua kerbau tersebut
sebelum dilakukan crossing. Hal tersebut sangat penting karena dengan sistem
pengamanan minimal yang ada di Indonesia, maka sekali crossing dilakukan
jika terjadi dampak negative sebagai akibat dari persilangan tersebut, maka
akan sulit mengembalikan keberadaan breed ternak asli (yang ternyata
kemudian lebih baik). Hal seperti ini pernah dialami Indonesia dengan persilangan
pada sapi. yaitu persilangan dengan Ongole yang memusnahkan sapi Jawa dan
sekarang persilangan dengan sapi Eropa (Simmental/Limousin) yang menyebabkan perkembangan
sapi PO dikhawatirkan berjalan ke arah kemusnahan di daerah sumber bibit utama.
·
Mengembangkan kemitraan antara instansi pemerintah, baik dalam memanfaatkan
kerbau-kerbau bibit, maupun kebutuhan teknologi yang dibutuhkan dalam
perbibitan dan pengembangan ternak kerbau.
·
Menstimulir keterlibatan swasta/investors dalam peternakan kerbau
terutama dalam penggemukan dan pengembangan daging rendah kolesterol dan daging
organic yang sekarang trendnya semakin meningkat di dunia. Penjualan daging kerbau
organik yang rendah kolesterol cukup marak pada perdagangan internasional yang
dapat ditelusuri melalui internet.

kalau kerbau belang yang ada di Tator itu termasuk krbau ap?
BalasHapusass.... mas kira-kira kerbau apa yg pas untuk d kembangkan di sulTra n jenis kerbau apa yang saat ini ada d sulTra + apa yang menyebabkan perbedaan antar swamp buffalo and river bufallo? maturnuhun masssssssss
BalasHapusbagaimana caranya untuk mengetahui bahwa suatu daerah merupakan lokasi yang baik untuk pengambangan kerbau?
BalasHapus